Dari Pembinaan Menuju Transformasi Berbasis Data

Pembinaan bank sampah di Kelurahan Bahagia (54 RW) menyoroti besarnya tantangan sampah di wilayah ini. Melalui sosialisasi Aplikasi Hijao, PT AEN Murtic Zaya Group mendorong pengelolaan berbasis teknologi dan komunitas.

Admin Hijao

Author

8 October 2025

14:05 WIB

2 menit

Waktu baca

Dari Pembinaan Menuju Transformasi Berbasis Data

Di sebuah aula pertemuan di Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, percakapan tentang sampah berubah menjadi diskusi tentang masa depan. Undangan resmi dari Lurah Bahagia, Khoirul Anwar, S.STP, M.Si, mempertemukan berbagai elemen, mulai dari perangkat kelurahan, aparat, penggerak lingkungan, hingga masyarakat dalam satu forum pembinaan bank sampah yang tidak hanya seremonial, tetapi sarat arah kebijakan dan rencana pembangunan.

Kelurahan Bahagia merupakan salah satu wilayah terpadat di Provinsi Jawa Barat yang tersebar di 54 RW (berdasarkan struktur wilayah setempat dan rata-rata kepadatan Kecamatan Babelan menurut BPS Kabupaten Bekasi). Mengacu pada data KLH, dengan rata-rata timbulan sampah 0,5–0,7 kg per orang per hari, wilayah ini menghasilkan sekitar 17–31 ton sampah setiap hari. Dalam skala tahunan, jumlah tersebut dapat mencapai lebih dari 6.000–11.000 ton sampah, yang sebagian besar masih bergantung pada sistem pengangkutan menuju TPA.

Di tengah angka-angka tersebut, pembinaan bank sampah menjadi krusial. Forum ini tidak hanya membahas teknis pemilahan dan pengelolaan, tetapi juga memperkuat peran masyarakat sebagai aktor utama dalam sistem. Di sinilah AEN melalui Aplikasi Hijao hadir tidak sekadar memperkenalkan teknologi, tetapi menawarkan integrasi sistem yang mampu mencatat, mengelola, dan mengoptimalkan nilai sampah.

Melalui sesi sosialisasi, Hijao memperlihatkan bagaimana pendekatan berbasis aplikasi dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah hingga tingkat komunitas. Jika hanya 10% dari total timbulan sampah harian di Kelurahan Bahagia dapat dikelola melalui sistem yang terintegrasi, maka sekitar 1,7–3 ton sampah per hari berpotensi dialihkan dari TPA menjadi sumber daya bernilai.

Pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar agenda pembinaan. Ia mencerminkan pergeseran paradigma dari pengelolaan sampah konvensional menuju sistem yang berbasis kolaborasi, data, dan teknologi. Di Kelurahan Bahagia, langkah kecil ini membuka kemungkinan besar: bahwa dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan inovasi, persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang berkelanjutan.

Artikel Terkait

Dari Hulu ke Hilir, Dari Dapur ke TPA

Dari Hulu ke Hilir, Dari Dapur ke TPA

Di Bantar Gebang, sampah tidak lagi sekadar benda yang dibuang, ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat Tim Hijao turun langsung ke lapangan dan bertemu Pak Harno, satu hal menjadi nyata: di balik setiap sampah yang kita hasilkan, ada proses panjang dan perjuangan yang jarang kita lihat. Dari sinilah pemahaman itu tumbuh bahwa perubahan harus dimulai dari sumbernya.

Implementasi Perdana Hijao di Jakarta: Dari Uji Coba Menjadi Gerakan Nyata Berbasis Data

Implementasi Perdana Hijao di Jakarta: Dari Uji Coba Menjadi Gerakan Nyata Berbasis Data

Implementasi perdana Aplikasi Hijao di Jakarta menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis teknologi dan komunitas dapat berjalan efektif, dengan capaian sekitar 3 ton per minggu. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga mengubah sampah menjadi bernilai, sekaligus membuka potensi untuk diperluas sebagai solusi berkelanjutan.

Kami menghargai Privasi anda

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menganalisis penggunaan situs, dan menyediakan konten yang dipersonalisasi. Data Anda akan diproses sesuai dengan Kebijakan Privasi kami.