Di sebuah aula pertemuan di Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, percakapan tentang sampah berubah menjadi diskusi tentang masa depan. Undangan resmi dari Lurah Bahagia, Khoirul Anwar, S.STP, M.Si, mempertemukan berbagai elemen, mulai dari perangkat kelurahan, aparat, penggerak lingkungan, hingga masyarakat dalam satu forum pembinaan bank sampah yang tidak hanya seremonial, tetapi sarat arah kebijakan dan rencana pembangunan.
Kelurahan Bahagia merupakan salah satu wilayah terpadat di Provinsi Jawa Barat yang tersebar di 54 RW (berdasarkan struktur wilayah setempat dan rata-rata kepadatan Kecamatan Babelan menurut BPS Kabupaten Bekasi). Mengacu pada data KLH, dengan rata-rata timbulan sampah 0,5–0,7 kg per orang per hari, wilayah ini menghasilkan sekitar 17–31 ton sampah setiap hari. Dalam skala tahunan, jumlah tersebut dapat mencapai lebih dari 6.000–11.000 ton sampah, yang sebagian besar masih bergantung pada sistem pengangkutan menuju TPA.
Di tengah angka-angka tersebut, pembinaan bank sampah menjadi krusial. Forum ini tidak hanya membahas teknis pemilahan dan pengelolaan, tetapi juga memperkuat peran masyarakat sebagai aktor utama dalam sistem. Di sinilah AEN melalui Aplikasi Hijao hadir tidak sekadar memperkenalkan teknologi, tetapi menawarkan integrasi sistem yang mampu mencatat, mengelola, dan mengoptimalkan nilai sampah.
Melalui sesi sosialisasi, Hijao memperlihatkan bagaimana pendekatan berbasis aplikasi dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah hingga tingkat komunitas. Jika hanya 10% dari total timbulan sampah harian di Kelurahan Bahagia dapat dikelola melalui sistem yang terintegrasi, maka sekitar 1,7–3 ton sampah per hari berpotensi dialihkan dari TPA menjadi sumber daya bernilai.
Pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar agenda pembinaan. Ia mencerminkan pergeseran paradigma dari pengelolaan sampah konvensional menuju sistem yang berbasis kolaborasi, data, dan teknologi. Di Kelurahan Bahagia, langkah kecil ini membuka kemungkinan besar: bahwa dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan inovasi, persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang berkelanjutan.