Di bawah atap sederhana yang disangga bambu, di tengah panas dan aroma menyengat yang tak pernah benar-benar pergi, percakapan itu terjadi, tenang namun penuh makna.
Hari itu 25 Juli 2023, Tim Hijao berdiri tidak sebagai pengamat, tetapi sebagai pembelajar. Di hadapan mereka, tumpukan sampah bukan lagi sekadar “limbah”, melainkan realitas hidup yang setiap hari dihadapi oleh orang-orang seperti Pak Harno, pelaku usaha daur ulang di kawasan Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.
Pak Harno tidak banyak bicara tentang teori. Tangannya yang terlatih, lingkungannya yang penuh tumpukan sampah daur ulang, dan rutinitasnya yang berulang setiap hari, itulah penjelasan paling jujur tentang bagaimana sistem pengelolaan sampah bekerja di lapangan.
Di tempat itu, satu hal menjadi sangat jelas:
bahwa sampah tidak pernah benar-benar hilang.
Ia berpindah. Dari rumah ke TPS. Dari TPS ke TPA. Dari TPA… ke tangan-tangan yang berusaha menyelamatkan sebagian kecil nilainya.
Tim Hijao menyaksikan langsung bagaimana proses pemilahan dilakukan dengan keterbatasan. Bagaimana nilai ekonomi dari sampah hanya bisa diambil jika dipilah dengan benar. Dan bagaimana sebagian besar lainnya tetap berakhir menjadi beban lingkungan.
Bantar Gebang bukan sekadar tempat. Ia adalah cermin.
Cermin dari kebiasaan kita yang belum baik. Dan dari peluang besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Dari kunjungan itu, Hijao tidak hanya membawa pulang data atau hasil survei. Mereka membawa pulang perspektif.
Bahwa solusi tidak bisa hanya dibangun dari atas, dari kebijakan, atau teknologi semata. Solusi harus dimulai dari kebiasaan dan kesadaran setiap individu.
Karena di balik setiap kantong sampah yang kita buang, ada perjalanan panjang…
dan ada orang-orang seperti Pak Harno yang menjadi bagian dari cerita yang jarang kita lihat.
Dan dari sanalah, komitmen Hijao semakin kuat:
menghubungkan yang terputus, memperbaiki yang belum berjalan, dan menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.