Di sebuah dapur sederhana di rumah kontrakan Jakarta, tahun 2017, sebuah kebiasaan kecil perlahan berubah menjadi kegelisahan besar.
Setiap hari, kantong plastik itu terisi sampah. Awalnya ringan dari mulai bungkus makanan, botol minum, sisa dapur. Namun tanpa terasa, ia membesar, menggunung, dan mulai memenuhi sudut ruang. Bau samar yang dulu diabaikan, kini menjadi pengingat yang tak bisa dihindari: ada sesuatu yang salah dengan cara kita memperlakukan sampah.
Ghury dan sahabat-sahabatnya hidup dalam satu rumah kontrakan di Jakarta. Seperti kebanyakan anak muda kota yang cenderung "sok" sibuk, "sok" produktif, dan "sok" praktis. Sampah? Itu urusan nanti. Ikat, buang, selesai. Tapi di dapur kecil itu, “selesai” ternyata hanyalah awal dari masalah yang lebih panjang.
Suatu malam, saat kantong itu kembali penuh dan tak lagi muat ditutup rapat, muncul pertanyaan sederhana yang mengubah segalanya:
“Setelah ini dibuang, besok gini lagi, besok besok gini terus… sebenarnya sampah ini pergi ke mana?”
Pertanyaan itu terdengar sepele. Tapi jawabannya tidak.
Dari dapur sempit dengan cat dinding yang mulai mengelupas, dari lantai yang menjadi saksi tumpukan sampah harian, lahirlah kesadaran bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang dibuang, melainkan sesuatu yang harus diselesaikan.
Bukan hanya oleh pemerintah. Bukan hanya oleh petugas kebersihan. Tapi oleh setiap orang yang menghasilkannya.
Dari keresahan itulah, benih Hijao mulai tumbuh.
Hijao bukan sekadar aplikasi. Ia adalah jawaban yang berwujud atas kegelisahan yang pernah dirasakan langsung tentang sistem yang tidak terhubung, tentang kebiasaan yang belum berubah, dan tentang potensi besar yang terbuang begitu saja.
Apa yang dulu hanya satu kantong sampah di dapur kontrakan, kini menjadi gerakan untuk menghubungkan masyarakat, mengelola sampah dari sumbernya, dan mengubah limbah menjadi nilai.
Karena perubahan besar seringkali dimulai dari hal yang paling sederhana, dan kami percaya itu.