Upaya transformasi pengelolaan sampah berbasis teknologi dan ekonomi regeneratif yang dijalankan PT Aen Murtic Zaya Group melalui Aplikasi Hijao mendapat perhatian langsung dari pemangku kebijakan daerah. Hal ini ditunjukkan melalui kunjungan Anggota DPRD Kabupaten Semarang, Bapak Rizka Dwi Prasetyo, yang mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) Semarang 4 meliputi Getasan, Tengaran, Susukan, dan Kaliwiro, bersama Kepala Desa Batur, Bapak Radix Wahyu Dwi Yuni Ariadi.
Kunjungan ini dilakukan untuk melihat secara langsung proses pengelolaan sampah berbasis ekonomi regeneratif yang telah diimplementasikan oleh AEN di Desa Batur. Dalam kesempatan tersebut, rombongan meninjau sistem pengolahan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk pemanfaatan teknologi yang terintegrasi melalui Aplikasi Hijao.
Berdasarkan data, Indonesia menghasilkan lebih dari 30 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 35–40% di antaranya belum terkelola secara optimal. Tantangan utama yang dihadapi saat ini tidak hanya pada volume yang besar, tetapi juga pada keterbatasan infrastruktur pengolahan, serta ketergantungan yang tinggi terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kapasitasnya semakin terbatas. Selain itu, masih minimnya integrasi sistem dan pemanfaatan teknologi menyebabkan proses pengelolaan sampah belum efisien dan sulit dimonitor secara menyeluruh.
Di tingkat daerah, Kabupaten Semarang sebagai bagian dari Provinsi Jawa Tengah juga menghadapi tekanan serupa. Dengan asumsi timbulan sampah 0,5–0,7 kg per orang per hari, wilayah dengan populasi puluhan ribu jiwa seperti di Semarang berpotensi menghasilkan puluhan bahkan ratusan ton sampah setiap harinya. Tanpa intervensi sistem yang tepat, kondisi ini berisiko menambah beban lingkungan, meningkatkan emisi, serta menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pendekatan yang dilakukan oleh AEN dinilai menjadi solusi strategis. Sistem ekonomi regeneratif yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah, tetapi juga pada penciptaan nilai dari limbah melalui proses pengolahan dan pemanfaatan kembali, termasuk potensi konversi menjadi energi alternatif.
Bapak Rizka Dwi Prasetyo menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang telah dijalankan. Menurutnya, model ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan, sebagai solusi nyata dalam mengatasi persoalan sampah yang selama ini masih menjadi tantangan di banyak daerah.
Senada dengan itu, Kepala Desa Batur, Bapak Radix Wahyu Dwi Yuni Ariadi, menegaskan komitmen pemerintah desa dalam mendukung program ini agar dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah desa, legislatif, dan sektor swasta seperti AEN menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berdaya guna.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa inovasi di tingkat lokal dapat menarik perhatian dan dukungan dari tingkat pengambil kebijakan. Dari Desa Batur, sebuah model pengelolaan sampah yang terintegrasi, berbasis teknologi, dan berorientasi pada keberlanjutan mulai menunjukkan dampaknya menuju solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih baik.